FKOGK
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.


Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKPencarianPendaftaranLogin


 

 sesaji aswomedo...

Go down 
PengirimMessage
rian hidayat
Warga
rian hidayat

Lokasi : Semarang
Reputation : 0
Join date : 28.04.12

sesaji aswomedo... Empty
PostSubyek: sesaji aswomedo...   sesaji aswomedo... Icon_minitimeSat Apr 28, 2012 9:47 pm

Episode 1 :
Sesaji Aswomedo
Tidak biasanya beliau tinggal di paseban sendirian. Biasanya sang Prabu jengkar mendahului semua pejabat kerajaan. Kini Rekyono Patih, menteri2, nayoko2 projo, dan semua orang sudah meninggalkan balairung. Prabu Dosoroto terhenyak disinggasananya memandang lantai paseban yang gilar2 membentang luas. Matanya menerawang kedepan, melihat alun2 dengan sepasang
pohon wringin kurungnya.Prabu Dosoroto dan Permaisuri Dewi Susalyo atau Dewi Raghu menikah cukup lama tetapi belum juga punya keturunan. Hal ini merisaukan hatinya. Keturunan bukan hanya masalah pribadi tetapi sudah menjadi masalah negara karena pada waktu itu pewaris kerajaan adalah
putra Raja. Apalagi Prabu Dosoroto adalah raja kawentar dari negara besar Ayudyo yang kaya
raya, subur makmur gemah ripah loh jinawi. Toto titi tentrem dan kertoraharjo. Karena waktu itu
belum ada bayi tabung, satu2nya jalan adalah dengan menikah lagi. Raja Ayudyo tidak
tanggung2 menikahi 2 garwo ampéan yaitu Dewi Kekayi dan Dewi Sumitro. Namun setelah
sekian lama menikah, ketiga istri2 itu tetap juga tidak juga kunjung hamil.
Atas saran seorang pendhito, sang Raja mengadakan sesaji Aswomedo. Semua istri2nya
melakukan upacara ritual menari nari seolah melakukan hubungan badan dengan bangkai kuda.
Tidak jelas mengapa bukan dengan kuda hidup. Juga tidak jelas mengapa dengan kuda. Mengapa
bukan dengan ayam misalnya. Bukankah ayam lebih digdoyo ? Tanpa jago bisa beretelur dan
punya anak. Karena kuda terkenal ‘jantan’ dengan ukurannya yang ‘king size’ ? Entahlah.
Upacara seperti ini bukan aneh dijaman itu. Di Jepang ada upacara semacam itu. Wanita yang
mandul melakukan upacara ritual dengan jalan menggosok gosokkan yoninya ke sebuah patung
lingga yang dikeramatkan. Apalagi kalau digosokkan punya kita, wuah ...
Versi lain mengatakan bahwa Raja Ayudyolah yang mungkin mandul. Ini masalah serius karena
prabu Dosoroto tidak punya saudara kandung. Siapa nanti yang akan meneruskan tahta Ayudyo ?
Versi ini menyatakan bahwa prabu Dosoroto datang ke sebuah asrama resi2 untuk mendapatkan
‘suwuk’. Suwuk disini bukan sebatas kata2, jompa jampi dan doa2 tetapi sang raja meminta
ketiga garwo2nya dibuahi begawan2 di pertapaan itu. Tentunya pembuahaan dilakukan dengan
cara alamiah karena waktu itu belum ada bank sperma dan inseminasi. Tidak jelas juga apakan
hanya satu pendito yang membuahi ketiga istri2 itu, atau satu pendeta untuk satu istri, atau malah
rame2 - jambore.
Apa yang dilakukan prabu Dosoroto tidak jarang terjadi dimasa itu. Dalam kisah Mahabarata,
pewaris Astino meninggal sebelum sempat punya keturunan. Supaya punya keturunan,
dipanggilah begawan Abiyoso atau wiku Kresnodwipoyono dari pertapan Saptorenggo untuk
membuahi menantu2 Hastinopuro. Karena sang begawan tampangnya sangat buruk, ada menantu
itu yang memejamkan matanya ketika dibuahi sang pendeta. Akibatnya anak yang lahir, raden
Destoroto buta. Menantu kedua kaget sampai pias dan memalingkan mukanya sehingga anaknya
yang bernama Radèn Pandu berwajah pucat dan lehernya tèngèng. Menantu ketiga takut2 dan
berjalan berjingkat jingkat. Kelak anaknya yang bernama Yomo Widuro berjalan pincang. Ada
yang tanya, kalo pas dikeloni bopo begawan ia bersin2 bagaimana ? Ya, anaknya wohang
wahing, to ? Kalau sedang glègèk-en coca cola ? Mbuh ... !
Entahlah, mana dari versi2 tersebut yang benar tidaklah jelas. Yang jelas ketiga garwo raja hamil
dan melahirkan hampir bersamaan. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Kekayi dan anaknya
diberi nama raden Bharoto. Berikutnya, permaisuri Dewi Susalyo melahirkan raden
Romowijoyo. Dewi Sumitro melahirkan raden Lesmono. Beberapa bulan berselang Dewi Kekayi
melahirkan lagi seorang putra bernama raden Satrugeno. Betapa bahagianya sang Prabu
memiliki empat putra sekaligus.
Keempat putra tersebut dididik dikraton. Segala olah Joyo kawijayan, kesaktian, ilmu tata
negara, militer, hukum, dll. Sejak kecil raden Romowijoyo telah menunjukkan bakatnya yang
ruarbiasa. Tidak ada seorangpun yang meragukan bahwa beliaulah putra mahkota kerajaan
Ayudyo. Prabu Dosoroto sangat berbahagia dengan putra2nya. Ia sangat bangga dan sangat
sayang kepada putra sulungnya raden Romowijoyo yang diagul agulkannya menjadi
penggantinya kelak jika telah dewasa.

Episode 2 :
Supoto Sharwono
Walaupun berbeda ibu, sejak kecil Lesmono sangat dekat dengan Romo. Bharoto kompak
dengan adik kandungnya Satrugeno. Pengasuh Bharoto dan Satrugeno adalah emban Mantoro.
Hubungan emban ini dengan Dewi Kekayi sangat dekat. Walaupun kedudukannya hanya emban,
pengaruhnya sangat besar. Emban Mantoro adalah emban yang ambisius. Cita2nya tinggi. Ia
menginginkan kedudukan yang lebih tinggi. Ia kemaruk harta dan kuasa.
Adalah lumrah dalam kehidupan poligami, selain hubungan saling menyukai diantara istri2,
sering terjadi kecemburuan, iri dan rivalitas diantara mereka. Dewi Kekayi memendam rasa iri
ini. Iri kepada Dewi Susalyo yang menjadi permaisuri, iri karena anaknya tidak sehebat anak
marunya. Terkadang terlintas dalam benaknya betapa bombong hatinya seandainya putranya jadi
raja. Namun ia tidak bisa berbuat apapun. Romo terlalu sulit untuk ditandingi.
Pada suatu hari, sang Prabu menghibur diri dengan berburu sendirian. Biasanya belum tengah
hari beliau telah mendapatkan buruan tetapi kali ini sudah lewat tengah hari tak seekorpun
buruan nampak. Sang raja kelelahan dan mulai merasa kesal. Ketika sedang beristirahat, tiba2
diseberang danau tampak rumput2 dan ilalang ber-gerak2 menandakan adanya makhluk yang
sedang disitu. Jaraknya cukup jauh dan sang Prabu tidak ingin kehilangan buruan. Jika didekati,
harus memutar. Beliau takut buruan lari. Dengan mengerahkan kecakapannya dalam membidik,
untung2an sang Prabu membidik dan srettt panah melesat dari busurnya.
Alangkah kagetnya ketika terdengar jeritan manusia. Ter-gopoh2 beliau mendekati semak2 tsb.
Betapa terkejutnya Prabu Dosoroto mendapati seorang anak muda terkapar terkena anak
panahnya. Melihat pakaian Prabu Dosoroto, anak muda itu tahu bhw ia sedang berhadapan
dengan raja. Dengan ter-engah2 anak muda itu berkata
“ … mengapa baginda memanah saya … ? ”
“ aku … tidak sengaja, anak muda … “ Prabu Dosoroto mencoba menyelamatkan nyawa anak
itu dengan menaburkan obat2an yang dibawanya.
“ … saya mohon bantuan … “
“ katakan apa yang bisa kulakukan. Siapa kamu ? ”
“ saya anak Sharwono … kedua orang tua saya buta … mereka sedang menantikan kedatangan
saya membawa beras … “ Sharwono mulai sesak nafasnya.
“ mohon bawakan beras ini ke … “ Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, nyawanya keburu
meregang. Dengan masgul Prabu Dosoroto memanggul jasadnya mencari cari rumah orang
tuanya.
Begawan Sharwono adalah pendito yang gentur tapanya sehingga beliau menjadi resi yang sakti
mondroguno. Istri Resi Sharwono juga buta sehingga kedua orang tua itu sangat tergantung
hidupnya pada putra tunggalnya. Prabu Dosoroto tertegun melihat kenyataan itu. Pelan2 jenasah
diletakkan. Sang resi yang merasakan kedatangan sang Prabu bersabda
“ siapakah angger ... ? “
Terbata2 sang raja berkata “ Aku Prabu Dosoroto dari Ayudyo ... aku sedang kena sambekolo ...
tidak sengaja memanah anakmu hingga mati “ Alangkah terkejutnya kedua orang tua tadi.
Dengan sedih bercampur marah, sang Wiku berkata : “ bagaimana mungkin raja besar seperti
anda bisa berlaku ceroboh ! “ Prabu Dosoroto hanya bisa diam tanpa menjawab sepatah
katapun. Dengan geramnya sang pandhito mengutuk Prabu Dosoroto dengan suara menggeletar.
“ wahai kulup raja Ayudyo, ketahuilah karmamu, ... suatu saat nanti kulup akan mengalami hal
yang membuatmu sangat berduka ... anakmu akan ada yang kena bilahi ... angger akan berpisah
dengan anak yang paling kulup cintai ... dan kulup akan mati merana dalam kesedihan ... “
Sebagai raja yang berbudi mulia, Dosoroto sudah cukup tertekan dan merasa bersalah atas
kecerobohannya. Kini beliau harus menerima kutukan yang tidak bisa ditampiknya. Setelah
sekian lama, barulah beliau bisa melupakan supoto Sharwono. Namun, tanpa disadari Prabu
Dosoroto Supoto Sharwono diam2 menunjukkan tuahnya.

Episode 3
Bebendu di Ayudyo.
Kini para putra kerajaan telah menanjak dewasa semua. Radèn Romo benar2 seorang pemuda
santun dan bersahaja yang cemerlang. Ia tampan dengan tubuh atletis. Ia memiliki kharisma,
mampu berbicara memukau, bahkan seolah memiliki kekuatan sihir terhadap massa. Ia
dikaruniai aurora kewibawaan. Dimanapun ia melangkah, orang2 selalu bisa merasakan
kehadiran sosoknya. Segala olah keprajuritan dikuasai terutama memanah. Ia menguasai taktik &
strategi militer, ilmu tata negara, dll. Romo sudah menjalani uji fit & proper test sebagai calon
raja dengan predikat summa cumlaude. Ia sangat pantas menjadi raja di Ayudyo.
Beberapa tahun setelah supoto Sharwono, kedigdayaan kutukan ini mulai merejam. Ada putra
kerajaan yang pertumbuhannya menyimpang. Lesmono menjadi gay. Ia tampan, nyaris ayu.
Tetapi dibalik penampilannya yang gemulai, Lesmono memiliki patrap 100% laki2. Ia sama
sekali tidak tampak sebagai bencong. Kadang2 kabut feminin terbias dari auroranya. Ia militer
tulen. Gerak geriknya sangat cekatan dan tegas, patuh, disiplin, dan sulit diajak kompromi.
Radèn Lesmono yang pendiam sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Ia pria perasa berhati
lembut yang menyukai pria2 berwibawa. Radèn Bharoto dan Radèn Satrugeno tumbuh sebagai
pemuda normal, mereka tertarik dengan lawan jenisnya. Kedua satrio ini selamat dari kutukan
Sharwono. Sayangnya, kepribadiannya lemah. Mudah dipengaruhi dan ditunggangi pihak lain.
Kedua atmojo dewi Kekayi menerima supremasi Romo selain sebagai putra permaisuri, Romo
memang Jalmo Linuwih.
Ada penonton mbeler nylethuk :
+ Ki Dhalang, bahasanya kok ambur adhul ?
- Yo bèn ...
+ Itu namanya Dhalang mbeler ...
- Bèn aé ...
Yang paling parah justru si bintang kejora yang rendah hati, Radèn Romowijoyo. Ia menjadi
bisexual, tertarik dan bisa dengan laki2 maupun wanita. Namun ia lebih menyukai, nuwun sewu,
silit pria. Romo & Lesmono, saudara seayah lain ibu saling menyukai. Makin tahun hubungan
mereka makin erat sehingga terjalinlah hubungan kekasih. Lesmono adalah pribadi manis yang
setia, ia menjalin hubungan kasih hanya dengan Radèn Romo.
+ Lho ki, ... itu namanya incest, to ?
- Hè’ èh ...
+ Kok begitu ?
- Bèn aé, critané ngono, kok ...
Kesetiaannya bahkan bisa menjadi suri tauladan. Seumur hidupnya sampai matinya ia wadhat,
tidak pernah menikah. Dalam tradisi waktu itu, laku wadat umum dikalangan pandito. Ksatria
wadat tidak biasa. Dalam dunia pewayangan, hanya ada dua satrio yang selibat, yaitu Lesmono
dan resi Bismo. Walaupun menyandang gelar resi, kasta Bismo adalah kasta satrio karena
kedudukannya sebagai Senopati Astino. Sedangkan Lesmono wadhat karena ia memang tidak
mau kawin dengan wanita.
Kewadhatan Lesmono adalah suatu misteri. Misteri kedua adalah kesetiaannya terhadap Romo
yang mentakjubkan. kemanapun Romo berada, disitu selalu ada Lesmono. Berbeda dengan
Lesmono yang cenderung monogamis, Romo adalah poligamis. Ini adalah sikap yang wajar
waktu itu karena ia adalah calon raja. Semasa mudanya ia suka bertualang dari satu wanita ke
wanita lainnya. Juga dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Dalam hal ini ia gay aktif atau ngeloni.
Lesmono adalah gay pasif atau dikeloni. Namun demikian, cinta kasihnya hanya untuk seorang –
kakaknya, junjungannya, pujaan hatinya, Radèn Romo.
Penyimpangan kedua putra kerajaan itu tidak diketahui masyarakat luas. Hanya ada beberapa
orang yang berhubungan dengan Romo yang tahu. Mengingat kedudukan Romo, mereka ini
mendhem jero - bungkam, diam seribu bahasa. Prabu Dosoroto bukannya tidak tahu apa yang
sedang terjadi. Beliau tahu tetapi tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa. Setiap kali
memandang Romo dan Lesmono, setiapkali pula beliau harus mengenang jasad putra Begawan
Sharwono. Prabu Dosoroto mengerti bahwa ia sedang menerima bebendu.
Prabu Dosoroto berpikir, jika Romo sudah menikah barangkali orientasi sexualnya akan
bergeser. Oleh karenanya dititahkannya Romo mengikuti sayembara yang diadakan di Manthili.
Sebuah negara yang terletak agak jauh dari Ayudyo. Sebenarnya Romo belum begitu berminat
untuk menikah. Ia begitu menikmati kebebasannya sebagai pria lajang. Ia bisa hinggap dari satu
bunga ke bunga lainnya dengan bebasnya. Tidak peduli bunganya jantan apa betina. Disamping
itu, ia sudah berbahagia dengan adik kinasih Lesmono.

Episode 4 :
Sayembara Manthili.
Namun, Romo menyadari kedudukannya sebagai calon raja. Ia harus punya permaisuri.
Disamping itu ia tertantang dengan sayembara itu. Dengan setengah hati berangkatlah Romo
dengan adiknya dengan suatu tekad, memenangkan sayembara. Ia tidak begitu peduli dengan
hadiahnya. Yang penting ikut sayembara.
Sayembara di negara Manthili untuk memperebutkan Dewi Sinto yang terkenal ayu moblong2
telah membuat dunia wayang gempar. Manthili bukanlah sebuah negara besar, bahkan tergolong
miskin dan lemah dalam hal militer. Jika jaman sekarang barangkali seperti Kamboja atau
Vietnam.
Selain cantik jelita, Sinto mewarisi bakat ayahnya sebagai negarawan. Ia mampu melakukan
negosiasi2 dan cukup paham mengenai masalah2 negaranya. Sinto adalah pribadi yang tidak
suka dipinggirkan, mudah mutung. Kalau sudah mutung menjadi kepati pati. Sulit disambung
lagi. Ia perasa dan haus akan belaian kasih sayang dan perhatian. Ia mudah terluka.
Kiranya tidak perlu kita ceritakan bagaimana sayembara ini berlangsung. Kurang lebih seperti di
pedhalangan. Romo memenangkan sayembara dan ia menjadi kawentar karenanya. Inilah debut
Romo yang pertama. Sayembara ini memotivasi pemuda tampan ini. Dibalik penampilannya
yang kalem, ada bara didadanya. Sebuah ambisi, sebuah visi dari sosok bermental juara.
Ketika ternyata pemenangnya adalah Radèn Romowijoyo, Prabu Janoko raja Manthili sangat
bergembira. Beliau berharap kehadiran Radèn Romo bisa memberi dampak positip berupa
bantuan dari negara kaya Ayudyo. Aliansi dua negara yang sebenarnya timpang. Sepertinya
Manthili adalah protektorat Inggris ... é klèru ... Ayudyo.
Betapa bahagianya Sinto mendapatkan suami yang cemerlang dari negara kaya raya. Sinto
diboyong dari negara miskin ke negara kaya ibarat kéré munggah balé. Sinto yang pada dasarnya
matré agak kecewa karena Romo bersahaja, tidak gemebyar. Bahasa Jakarté, kurang ngejreng.
Pada dasarnya pernikahannya bermuatan politis ekonomis. Prabu Janoko yang sangat prihatin
dengan kemiskinan negaranya wanti2 kepada putri pembayunnya untuk menjalankan misi negara
– meminta bantuan IMF.
Alangkah bahagianya prabu Dosoroto berbesan dengan prabu Janoko yang dikenalnya sejak
kecil. Betapa bangganya sang prabu memiliki mantu yang moblong2. Segera ditandatanganinya
persetujuan untuk mengimpor TKW & TKM(anthili). Namun, beliau kecewa. Romo tidak
berubah.
Walaupun sudah memiliki garwo yang demikian jelita, Romo tidak menyadari pengaruh Supoto
Sharwono. Romo masih sering melakukan hobbynya – sodom sana sodom sini. Tiada hari tanpa
mencari **lit pria. Ia tetap saja berhubungan kasih dengan Lesmono. Sesungguhnya,
Lesmonolah kekasihnya yang paling sejati dan dicintainya. Walau ia menyukai Sinto yang
kinclong2, baginya Sinto adalah sebuah status simbol. Untuk menunjukkan kedigdayaannya
dalam memenangkan sayembara. Baginya pernikahan ini lebih bersifat formal institusional.
Prabu Dosoroto tidak tinggal diam. Dikerahkannya pendhito2 sakti dari seluruh pelosok untuk
menangkal Supoto Sharwono. Semua gagal, Romo terus saja ber-hura2 dengan bunga2 jantan.
Pernah prabu Dosoroto menelpon menteri agama RI. Dimintanya dukun sakti (yang membisiki
supaya menggali situs Batu Tulis) untuk menangkal Supoto Sharwono. Dipanggilnya Ki
Gendeng Pamungkas, dan semua dukun2 tersohor dari RI. Gagal juga.
Mungkin karena pengaruh Supoto Sharwono, Romo menjadi makin lupa daratan. Ia mecoba
menggoda Radèn Bharoto. Percobaannya gagal total, Bharoto menolak Romo. Bharoto sangat
kaget ketika mengatahui bahwa Romo seorang 'stereo'. Berbeda dengan orang2 lain yang tidak
berani berbuat apapun atas perbuatan Romo, Radèn Bharoto mengadu kepada ibunya. Dewi
Kekayi sebenarnya hanya sebatas kaget tetapi emban Mantoro dengan cepat memanfaatkan
situasi ini dengan provokasi2nya.
“ Wah, Gusti Dewi ... kalau Radèn Romo berkelakuan seperti itu, rasa2nya ia tidak pantas
menjadi raja. Lebih baik gusti Dewi melaporkan peristiwa ini kepada baginda raja. Dengan
begitu putra gusti Dewi bisa madheg Raja “
“ Aku rasa sulit karena baginda sangat mencintai Romo. Lagipula, ia putra permaisuri
sedangkan aku ini hanya garwo ampéan“
“ Nanti dulu, gusti ...

Episode 5 :
Romogate
“ Nanti dulu, gusti ... sebenarnya dari ke-empat putra kerajaan tak ada seorangpun yang bisa
disebut putra permaisuri. Lha, bagi pendeta atau pendeta2, mereka semuanya permaisuri. Ini
bisa kita permasalahkan. Dengan mengexpose masalah ini, baginda akan takut menjadi aib
karena rahasianya bahwa istri2nya dikeloni orang lain terbongkar. Yang lahir duluan adalah
dèn Bharoto, ini juga satu kartu truff kita“
“ Terus, apa rencanamu ? “
“ Nanti saya yang akan mempolitisir kasus susila ini dengan memprovokasi para tokoh2 agama,
poltisi2, dll. Saya bisa memanipulasi dewan agama supaya mengeluarkan fatwa bahwa gay
adalah nista dan tidak diterima menjadi raja. Saya akan kerahkan politisi2 kita untuk koalisi
dengan partai2 untuk membuat pansus Romogate“
Dewi Kekayi menghadap Prabu Dosoroto dan mengadukan perilaku Romo yang menyimpang.
Seketika itu juga sang raja paham bahwa supoto Sharwono sedang menikam dirinya. Sebagai
raja beliau memiliki kekuasaan absolut. Beliau bisa saja menutup kasus ini, bahkan menghukum
yang melaporkan namun baginda raja pasrah kepada karmanya. Terbayang jenasah Sharwono
dan kedukaan kedua orang tuanya. Dengan perasaan sedih beliau menyerahkan masalah ini
kepada pemuka2 negara. Waktunya telah tiba – Supoto Sharwono telah datang menjemput
karmanya, beliau akan terpisah dengan putra tercinta. Dan ajal sedang menghampiri. Prabu
Dosoroto menarik nafas, dan tanpa disadarinya ia menyenandungkan doa2 kematian. Bagi
dirinya. ...
Pada saat yang bersamaan, manuver emban Mantoro bekerja dengan efektif. Sebuah pansus
Romogate dibentuk untuk mengadili kasus penyimpangan Romowijoyo, yang sebenarnya sudah
lulus uji proper & fit untuk menjadi raja Ayudya. Namun yang terjadi mirip dengan kasus Anwar
Ibrahim von Malaysia. Dari segi manapun Anwar dianggap mampu untuk memimpin Malaysia.
Karena nila setitik, karena nyodomi sopirnya, rusak susu sebelangga.
Begitu pula halnya dengan Romo. Tak ada seorangpun yang meragukan kapasitas istimewa yang
dimiliki Romo. Sebenarnya kelemahan Romo bukan masalah besar dalam hal tata negara. Ini
masalah pribadi. Namun perilaku bisexual saat itu dianggap perbuatan nista. Keadaan bertambah
parah karena maneuver2 politik dan provokasi emban Mantoro yang gencar. Prabu Dosoroto
benar2 pasrah atas karmanya dan sama sekali tidak mencampuri Pansus Romogate. Terjadi
heboh di Ayudyo dan akirnya pansus Romogate berhasil menjatuhkan Romo. Raden
Romowijoyo dipidana, ditundhung (diusir) dari Ayudyo 12 tahun lamanya.
Kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Itu adalah intrik2 politik sukseksi. Yang
sering terjadi adalah ‘sibling rivalry’ atau rivalitas antar saudara yang bisa kita perluas menjadi
rivalitas antar kerabat. Kasus ini mendominasi kisah ini. Mahabharata adalah perang saudara
tunggal embah. Pecahnya Mataram menjadi Paku Buowno, Mangkunegoro, dan
Hamengkubuwono tak lain adalah kasus sibling rivalry. Terkadang sebenarnya sibling rivalry
tidak begitu keras namun (selalu) ada pihak ketiga yang menunggangi rivalitas saudara
sekandung itu. Di RI, kita lihat ada partai yang mengusung Rahmawati sehingga timbul sibling
rivalry antara kedua mbakyu-adi ini. Dalam kasus retaknya Mataram, Belandalah si pihak ketiga.
Dalam pakem, kasus Romogate adalah rivalitas istri2 prabu Dosoroto. Dalam versi ini, pihak
ketiga adalah mbok emban Mantoro.
Jika Romo ditundhung, kemungkinannya ‘salah’ atau ‘kalah’. Jikapun salah, mungkin
kesalahannya bukan kasus homosexual. Bisa saja misalnya ia korupsi atau mismanagement.
Atau, emban Mantoro yang mengusung Bharoto punya pendukung kuat sehingga bisa
menjatuhkan Romo. Bisa juga terjadi, prabu Dosoroto dikalungi clurit dipaksa mengusir Romo
dan mengangkat Bharoto. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Seolah kita melihat sebuah kotak
hitam. Tahu2 Romo terpental.
+ Lho, ki Dhalang, sik, sik, sik ...
- Opo ?
+ Ini wayang kok nggladrah soal2 politik ?
- Lho, kan sudah tak bilangi cerita ini didominasi soal2 politik & militer ?
+ O, enggih dhing ... lali kulo ...
- Sopo jenengmu ?
+ Paijo
- Kéné duduk dekat aku kéné, tak jadikan asisten Dhalang
+ Nggih .... tapi Ki ..., dhagelannya maaana ?
- ... mengko ....
+ Nggih ....

Episode 6
Romo Tundhung
Ketika semua orang sedang heboh, ada seorang wanita yang sangat terpukul – Dewi Sinto ! Ia
benar2 tidak mengetahui penyimpangan yang diderita suaminya. Lebih parah lagi ketika ia
mengetahui bahwa madunya laki2 ! Namun ia tidak sempat berpikir panjang. Kejadian
berlangsung begitu cepat. Kemarin tidak terjadi apa2, tahu2 kini ia harus berkemas mengikuti
suaminya jadi makhluk terbuang.
Akhirnya, nyaris tanpa persiapan berangkatlah Romowijoyo dengan istrinya, diikuti adik kinasih
Lesmono. Dalam versi pedalangan ini kelihatan aneh. Lesmono ikut pasangan yang memadu
kasih. Apa ia hanya disuruh mrongos melihat Romo-Sinto karonsih sepanjang jalan ?
Begitu Romo bertiga meninggalkan Ayudyo, emban Mantoro bergerak lebih jauh dengan
mengirimkan pasukan untuk membunuh Romo. Namun Romo & Lesmono mampu mengalahkan
pasukan itu. Bahkan dari peristiwa itu, kedua satrio ini tahu bahwa emban Mantorolah aktor
intelektual dibelakang pansus Romogate. Setahu Romo, Radèn Bharoto sama sekali tidak
menunjukkan ambisi madheg narendro. Begitupun tante Kekayi, walaupun memiliki sifat iri,
Romo menampik kemungkinan bahwa tante yang berada dibelakang semua ini.
Bagi Romo sebagai manusia pinilih, ini bukan masalah berat. Dengan tenang diterimanya
pengusiran ini bagaikan sebuah acara piknik. Namun, di dalam hatinya ia bersumpah akan
merebut kembali tahtanya dari emban Mantoro.
Dalam versi pewayangan, perjalanan ke pembuangan dihutan belantara adalah kisah romantis.
Namun tidak demikian halnya dengan Sinto. Ini adalah sebuah malapetaka. Tiap kali suaminya
pamit cari makanan Sinto tahu bahwa Romo sedang memadu kasih dengan Lesmono. Didepan
hidungnya ! Wanita mana yang tidak sakit hati ? Tiap kali ditinggal sendirian dihutan, cuma
disuruh mrongos membayangkan Romo & Lesmono ambung2an yang pasti berujung dengan
kelonan.
Dulu di Manthili ia terbiasa hidup sederhana karena memang negaranya miskin. Ketika menjadi
menantu Ayudyo, tiba2 ia bagaikan kéré munggah balé. Shopping barang2 mewah, pesta2,
makan enak, hura2, dll. Belum lama ia menikmati semua ini, tiba2 ia sekarang terbanting harus
mudun balé. Malah lebih miskin dari dulu ! Ia harus kemekelen makan daun, rumput2an, tekèk,
thok-érok, bandhempo, escargot. Escargot ? Ada masakan Perancis ? Bukan, escargot itu bahasa
Jermannya bekicot. Jalannya becek, banyak nyamoek, kalau hujan trocoh. Pokoknya, hidup serba
horotoyonoh.
Ia berharap bersuamikan raja tetapi sekarang Romo malah di-phk, jadi kéré unyik tur madesu –
masa depan suram. Sinto sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi dalam mengemban tugas
negara, meminta bantuan IMF. Lha wong suaminya sudah di Romogate-kan. Sudah ditinggal
sodoman, jadi kéré, masih harus makan tekèk ! Menghadapi masalah itu lama kelamaan Sinto
jadi tidak tahan hidup ngeres seperti itu. Ketika seseorang lewat membawa HP, ia pinjam dan
kirim SMS kepada ayahnya supaya dijemput.
Menerima SMS dari alas gung liwang liwung Dhandhoko, segera Prabu Janoko mengirimkan
surat balasan.
Pamuji Rahayu
Kata pembukaan ... blah ... blah ... blah ...
Betapa sedih hati ayahanda menerima kabarmu. Jika menuruti kata hati, rasanya aku akan
segera menjemput putri yang kusayangi. Namun, ngger anakku, pahamilah posisi ayahmu
sebagai narendro yang harus memenuhi sabdo pandito ratu. Kamu sudah kuserahkan kepada
Radèn Romowijoyo dan aku tidak bisa dan tidak mau menjilat kembali pocapanku kecuali jika
kamu dikembalikan padaku.
Keduakalinya, ingatlah kedudukanmu sebagai garwo, sigaring nyowo atau belahan jiwa. Tidak
sepantasnya kamu meninggalkan suami yang sedang dalam kesusahan. Janganlah Swargo katut
Neroko tidak ikut. Menjadi sisihan artinya selalu berada disisinya, baik dalam suka maupun
duka. Jika ada masalah diantara kalian berdua, selesaikanlah diantara kalian berdua. Mertua
tidak selayaknya intervensi urusan dalam negri, malah membuat situasi makin kisruh kehidupan
rumah tanggamu.
Akirnya, besarkan hatimu, Radèn Romo bukan manusia sembarangan. Ia jalmo pinunjul. Ia pasti
mampu mrantasi gawé. Mengingat beratnya keadaanmu, untuk sementara ini kutarik kembali
tugas2 negaramu. Biarlah ini menjadi masalah para pranoto negoro.
Blah ... blah ... blah ... penutup dan doa restu
Ayah bunda tercinta
Prabu Janoko
Menerima surat dari ayahnya yang begitu, Sinto jadi nglokro. Jika ayahnya saja tidak bisa dan
tidak mau mengulurkan bantuan, siapa yang bisa ?
Kembali Ke Atas Go down
http://www.medani-tegowanugrobogan.blogspot.comwww.reksa123.mywa
sacho_eka
Pengawas
sacho_eka

Lokasi : tangerang- banten
Reputation : 36
Join date : 03.11.08

sesaji aswomedo... Empty
PostSubyek: Re: sesaji aswomedo...   sesaji aswomedo... Icon_minitimeTue May 01, 2012 10:14 pm

monggo di tunggu episode 2 nya..
Kembali Ke Atas Go down
http://kiossticker.com
wiwid
HanSip
wiwid

Lokasi : Dunia Maya
Reputation : 19
Join date : 09.08.09

sesaji aswomedo... Empty
PostSubyek: Re: sesaji aswomedo...   sesaji aswomedo... Icon_minitimeTue May 01, 2012 11:11 pm

byuh..
dowone..
memeng moco aq.. Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com/forum
Sponsored content




sesaji aswomedo... Empty
PostSubyek: Re: sesaji aswomedo...   sesaji aswomedo... Icon_minitime

Kembali Ke Atas Go down
 
sesaji aswomedo...
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: FORUM UMUM :: Panduan, Bantuan dan Uji Posting-
Navigasi: