FKOGK
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.


Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKLatest imagesPencarianPendaftaranLogin

 

 TONDONE JAMAN KOLOBENDU

Go down 
+3
__BlacKy__
Gulang
Sunjoyo Hadiwinoto
7 posters
PengirimMessage
Sunjoyo Hadiwinoto
KorLap
Sunjoyo Hadiwinoto


Lokasi : jakarta
Reputation : 1
Join date : 05.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeSun May 11, 2008 10:39 pm

KI SING DADI ZAMANE KOLO BENDU**

1].Lindu ping pitu

2].Lemah bengkah

3].manungsa pathing geluruh akeh sing podho loro

4].pagebluk rupo-rupa

ZAMAN KOLO BENDU IKU WIWIT YEN==…?
1].wes ono kereto mlaku tanpo jaran

2].tanah jowo kalungan wesi

3].prahu mlaku ing dhuwur awang-awang

4].kali ilang kedunge

5].pasar ilang kumandange.

6].wong nemoni wolak waliki zaman

7].jaran doyan mangan sambal

8].wong wadon panganggo busono lanang

==ZAMAN KOLO BENDU IKU KOYO-KOYO ZAMAN KASUKAN ZAMAN KANIKMATAN DONYA SEJATINE ZAMAN IKU ZAMAN LEBURING DONYA==

1].akeh bapak lali anak

2].akeh anak wani marang ibu lan nantang marang bapak

3].sedulur podho cidro-cinidro 4

].wong wadon ilang kawirangane,wong lanang ilang kaprawirane

5].akeh wong lanang ora duwe bojo

6].akeh wong wadon ora setia karo bojone

7].akeh ibu podho ngedol awake

8].akeh ibu ngedol anake

9].akeh wong ijol bojo

10].akeh udan salah mongso

11].akeh rondho ngelahirake anak

12].akeh prawan tuwo

13].akeh jabang bayi goleki bapake

14].wong wadon ngelamar wong lanang

15].wong lanang ngasorake derajate dewe

16].akeh bocah kowar

17].rondho murah regane

18].rondho ajine mung sak sen loro

19].prawan ajine rong sen loro

20].dudho pincang payu sangang wong

==ZAMANE ZAMAN EDAN==

1].wong wadon nunggang jaran

2].wong lanang lungguh plengki

3].wong bener-bener lenger-lenger

4].wong salah bungah-bungah

5].wong apik-apik di tampik

6].wong bejat munggah pangkat

7].akeh ndandang di unekake kuntul

8].wong salah di anggep bener

9].wong lugu ke belenggu

10].wong mulyo di kunjoro

11].sing culiko mulyo sing jujur ajur

12].poro laku dagang akeh sing keplanggrang

13].wong main akeh sing dadi

14].LINAK LIJO LINGGO LICA:lali anak lali bojo lali tonggo lali konco

15].duwit lan kringet mung dadi wolak-walik kertu

16].kertu gedhe di bukak podho guyu pating kakak .

17].yen mulih main kantonge kempes krungu anak lan bojo nangis ora di rewes

==…senajan abote koyo ngopo sebisa-bisane ojo nganti wong kalut keliring zaman kolo bendu iku bakal sirno gantine yoiku zaman ratu adil zaman kamulyan, mulo sing tatag,tabah ,sing kukuh ojo kepranan ombaking, zaman mulo entenano zaman kamulyan zamane ratu adil…==
Kembali Ke Atas Go down
http://www.sunjoyo.co.cc,http://www.asetshare.com/?ref=1965
Gulang
Lurah
Gulang


Lokasi : kudung langit kemulan mego
Reputation : 0
Join date : 13.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeTue May 13, 2008 7:44 pm

Menurut sampeyan iki maksude piye mas ?

7].jaran doyan mangan sambal
Kembali Ke Atas Go down
__BlacKy__
Donatur
__BlacKy__


Lokasi : Djodja___
Reputation : 14
Join date : 04.03.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeTue Jun 10, 2008 10:34 pm

Sad rung begitu faham kih
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
Wonosingo Ngali Kidul


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeWed Jun 18, 2008 8:07 pm

Kuwi critane...ngene...nek jaman kolobendu kuwi jaman sing sing peteng ndedet....iki menurut pengertianku......

Dadi ngene, jaman kolo bendu kuwi jaman sing tando2ne koyo d sebutke Pak De Sunjoyo mau........

Gampangane nek kowe arep seneng ro cah wedok....dadi ngono kae........ ngakak
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
Wonosingo Ngali Kidul


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeWed Jun 18, 2008 8:10 pm


Ditulis Oleh Wiyanto, S.Pd

07-06-2008,
Halaman 2 dari 3
Inikah yang dinamakan zaman kalabendu?
Zaman serba tidak teratur, zaman yang tidak lagi memiliki arah, yang
benar disalahkan dan yang salah malah diagung-agungkan. Haruskah kita
bertanya kepada rumput yang bergoyang (para kyai dan pemuka agama)
sementara mereka sendiri bingung dengan kejadian demi kejadian yang
terjadi. Lantas kepada siapa lagi kita harus bertanya. Apakah kita
masih percaya bahwa setelah adegan goro-goro ini akan datang sebuah masa tentram, aman, damai dan sejahtera?

Sejak
26 Desember 2004, bangsa Indonesia sepertinya tidak pernah lepas dari
bencana yang datang terus secara bergantian. Bencana Tsunami,
meletusnya gunung merapi, gempa Jogja, meluapnya lumpur Lapindo, angin
topan, tanah longsor, kapal tenggelam, hilangnya pesawat Adam Air,
tenggelamnya sebagian besar kota Jakarta yang merupakan jantungnya
Indonesia, gempa bumi di Solok, longsor di Manggarai NTT dan yang
terakhir terbakarnya Pesawat Garuda di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Lantas
bencana apa lagi yang menunggu? Kita tidak tahu pasti, akan tetapi
sepertinya alam tidak henti-hentinya memberikan peringatan kepada kita.
Sadar atau tidak sadar alam adalah guru paling bijaksana dari semua
kejadian.

Masih pantaskah saat ini kita mencari kambing hitam
atas apa yang dialami bangsa Indonesia saat ini? Mengapa bencana terus
silih berganti menghantam negeri ini? Masih pantaskah di saat seperti
ini kita saling menyalahkan? Sebagai contoh dengan mendesak presiden
SBY untuk mundur sebab setelah SBY menjabat sebagai presiden di negeri
ini berbagai macam bencana terus menimpa bangsa ini tanpa henti atau
karena SBY telah ikut menyengsarakan rakyatnya dengan manaikkan harga
BBM?

Bangsa Indonesia memang sedang panik, akan tetapi hendaknya
kepanikan ini tidak menjadikan bangsa ini salah arah dan berubah
menjadi bangsa yang cengeng. Justru sebaliknya semua bencana yang
menimpa harusnya dapat dijadikan pelajaran berharga bagi kelangsungan
kehidupan bangsa ini ke depan. Menjadikan bangsa ini semakin dewasa
untuk menghadapi semua cobaan yang menimpa.

Rentetan bencana
yang menimpa bangsa ini memang sepertinya tidak akan pernah berakhir.
Sebab di belakang semua peristiwa tersebut masih menunggu
peristiwa-peristiwa lain yang siap menghantam negeri ini. Tidak hanya
dalam masalah bencana alam akan tetapi menyeluruh kedalam sendi-sendi
kehidupan bangsa ini. Banyaknya hutang negara, bertambahnya angka
kemiskinan, tumbuhnya banyak penyakit dalam masyarakat, bertambah
maraknya KKN, dan pornografi sudah dianggap sebagai kebiasaan. Satu hal
yang pasti hendaknya kita semua segera koreksi diri. Ada apa yang salah
dengan kita bukan saling menyalahkan satu sama lain.

Dari mana
kita harus memperbaiki keadaan yang serba ruwet seperti sekarang ini
kalau tidak dari diri pribadi kita masing-masing warga negara bangsa
ini yang masih punya hati dan nurani. Saat ini bukan masanya lagi kita
memberikan peringatan kepada orang lain atau anak cucu kita tentang apa
yang harus dilakukan, sebab kita sendiri masih sering membuat
kesalahan, sering jarkoni (bisa memberikan petuah kepada
orang lain akan tetapi kita sendiri tidak pernah peduli apalagi
melakukan apa yang pernah kita sampaikan kepada orang lain)

Semoga kita sadar dengan semua keadaan ini

sumber:citizennews.suaramerdeka.com
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
Wonosingo Ngali Kidul


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeWed Jun 18, 2008 8:13 pm

KALABENDU - GEJALA MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH

Oleh : Ki Ageng Mangir
Kondisi masyarakat bangsa Indonesia saat ini sungguh
sangat menyedihkan, dengan kondisi yang boleh
dikatakan anarki. Aparat keamanan sama sekali tidak
dianggap, tidak lagi mampu mengendalikan keadaan,
tidak lagi merupakan lembaga yang kredibel bagi
rakyat minta perlindungan. Di-kota-kota besar, juga
dijalanan antar kota para preman dan kriminal
berkeliaran mencari korban pemerasan tanpa rasa
takut, setiap orang merasa was-was yang setiap saat
bisa menjadi korban kriminalitas ataupun kekerasan
dijalanan baik pada saat naik kendaraan maupun
berjalan kaki.

Kita mulai mempertanyakan apa yang telah dan sedang
terjadi dengan bangsa Indonesia yang membanggakan
dirinya sebagai bangsa yang ramah tamah dan banyak
senyum ? Apa jawaban dari gejala pertanda zaman ini ?
Mungkin kita bisa melakukan analisa dan mencoba
mencari penyebabnya dan mungkin bisa menemukan
obat mujarab untuk mengobati masyarakat bangsa
Indonesia yang sedang sakit. Bahwa bangsa Jawa
dengan warisan Budaya-nya pernah melukiskan suatu
masa yang mirip dengan kondisi saat ini mungkin
hanyalah suatu kebetulan ataukah suatu prediksi yang
akurat bahwa kondisi seperti saat ini akan dialami oleh
bangsa Jawa / Indonesia.

Penulis ber-ulang2 kali membaca Serat Centhini pada
bagian tentang ramalan Jayabaya dan mencoba untuk
mengerti maknanya dan relevansinya dengan zaman
ini, terutama yang menjelaskan tentang masa yang
dinamakan masa Kalabendu.

Note : Serat Centhini adalah buku dalam bahasa Jawa
(aslinya ditulis memakai huruf Jawa) dalam bentuk
tembang 'macapat' yang disuruh tulis oleh Pangeran
Adipati Anom yang kemudian menjadi raja Surakarta -
Sunan Pakubuwana V (1820 - 1823) pada kira-kira
tahun 1814 yang terdiri dari dua belas jilid yang berisi
kisah pelarian dari kedua putra dan satu putri dari
Sunan Giri ketika kerajaan Giri di Jawa Timur
dijatuhkan oleh Sultan Agung dari Mataram dan kisah
perjalanan ini yang merekam banyak kisah, cerita,
legenda, kepercayaan, tata-cara budaya Jawa dari
ujung ke ujung Pulau Jawa yang meliputi banyak
daerah pedalaman maupun pinggiran yang kadang2
tidak terpengaruh oleh kekuasaan kerajaan Mataram.

(Sumber penulisan artikel ini adalah Serat Centhini
yang sudah diterjemahkan dalam dalam bentuk huruf
latin, tapi masih menggunakan bahasa Jawa madya)
Ramalan Jayabaya.
Banyak ramalan atau prediksi masa depan bangsa
Jawa dan semua ramalan dinamakan ramalan
Jayabaya, penulis sendiri tidak tahu mana yang asli
dan mana yang hanya sekedar dari mulut kemulut.
Satu-satunya sumber yang menjadi referensi penulis
adalah yang tertulis dalam Serat Centhini pada akhir

Jilid III pupuh 256 dan Jilid IV pupuh 257 dan 258.
Pada awal Pupuh 256 dikatakan :

- Kalanira sang Prabu, Jayabaya Kadhiri ngadhatun,

katamuan pandhita saking Rum nagri, nama Molana

Ngalimu, Samsujen tahu kinaot.

Jadi ramalan yang dikemukakan oleh Prabu Jayabaya

berasal dari ajaran Maulana Seh Ngali Samsujen yang

dalam pupuh selanjutnya berdasarkan Kitab Musarar.

Selanjutnya dalam ramalan yang bermula dari tarih

Masehi membagi zaman menjadi masing2 tujuh ratus

tahun yaitu zaman : Kaliswara, Kaliyoga, dan Kalisi-

ngareki.

Masing2 tujuhratus tahun dibagi menjadi tujuh seratus

tahunan sedangkan seratus tahunan dibagi menjadi

tiga 33 tahunan.

Dengan pembagian tahun hanya sampai dengan tiga

kali tujuh ratus tahun, Jayabaya se-olah2 meramalkan

bahwa akhir zaman akan terjadi pada abad ke 21.

Sedangkan ramalan yang terjadi pada empat abad

terakhir tentang tanah Jawa adalah pada pupuh 256,

tembang 44 s/d 47 sebagai berikut (yang merupakan

bagian dari tujuh abad zaman Kalisangireki) :

- Kaping pat arannipun, jaman Kalabendu werdinipun,

estu Bebendu wahananeki, keh jalma saluyeng

rembug, dumadya prang lair batos.

- Ping lima arannipun, jaman Kalasuba tegesipun,

jaman suka wahananira keh jalmi, antuk kabungahan

estu, rena lejar sakehing wong.

- Kaping nem arannipun, jaman Kalasumbaga puniku,

werdi zaman Misuwur wahanineki, keh jalma gawe

misuwur, mrih kasusra ing kalakon.

- Kasapta arannipun, jaman Kalasurata rannipun, werdi

jaman Alus wahananoreki, akeh jalma sabiyantu, ing

budining karahayon.

Bersambung......................
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
Wonosingo Ngali Kidul


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeWed Jun 18, 2008 8:13 pm

Jadi setelah bangsa Jawa/Indonesia melewati zaman

Kalabendu akan mengalami tiga abad zaman keemasan

dan kemahsyuran sampai dengan akhir zaman. Cuma

kalau menurut perhitungan Jayabaya zaman Kalabendu

adalah periode tahun 1800-1900, sedangkan sampai

saat ini tanda-tanda zamannya masih seperti zaman

Kalabendu (yang mungkin periode 1900-2000) dan

setelah melewati tahun 2000 sampai dengan akhir

zaman bangsa Jawa/Indonesia akan mengalami masa

kejayaannya.

Selanjutnya pada pupuh 257, Jayabaya meramalkan

akan ada tujuh kerajaan dimulai dari kerajaan

Pejajaran di tanah Jawa dan setelah itu tanah Jawa

tidak lagi ada kerajaan, yang terjadi pada saat zaman

Kalabendu.

Interpretasi tujuh kerajaan adalah: Pejajaran, Majapahit,

Pajang, Demak, Mataram, Surakarta, Yogyakarta dan

masa kemerdekaan yang tidak ada kerajaan lagi di

Indonesia.

Dalam Pupuh 257 tembang 23 tercermin peralihan

dari zaman kerajaan sebagai berikut :

- Sirnaning kang, kadaton jalaranipun, wawan-wawan

lawan, bangsa sabrang kulit kuning, mawa srana

tatunggul turun narendra.

Yang bisa diterjemahkan bahwa kedatangan bangsa

sebrang kulit kuning (Jepang) sebagai sarana tidak

ada lagi kerajaan di Jawa / Indonesia.

Zaman Kalabendu.

Pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44

dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman

Kalabendu. Penulis sendiri belum pernah membaca

Serat Kalatidha karangan R.Ng. Ranggawarsita, yang

kelihatannya telah disadur dan dimasukkan dalam

bagian dari Serat Centhini pada bagian ini - ini sangat

mungkin terjadi karena penulisan Serat Centhini

terjadi pada satu masa dengan masa kehidupan

R. Ng. Ranggawarsita, bahkan pembukaan Serat

Centhini jilid 5, dibuat oleh beliau.

Kemungkinan lain kenapa masa Kalabendu mendapat

porsi yang lebih banyak dalam Serat Centhini :

1. Interpretasi bahwa Kalabendu adalah zaman periode

tahun 1800-1900 dimana saat penulisan Serat Centhini.

2. Serat Kalatidha yang disadur kedalam Serat

Centhini pupuh 257 adalah sekedar ilustrasi apa yang

sedang terjadi pada zaman itu oleh Ranggawarsita

dan sama sekali bukan ramalan.

Ilustrasi apa yang terjadi pada masa Kalabendu

sangat mirip dengan apa yang sedang terjadi pada

bangsa Indonesia saat ini, oleh karena itu terbuka

suatu interpretasi bahwa masa Kalabendu adalah

periode yang akan berakhir pada tahun 2000. Pertanda

zaman sama sekali belum terlihat tanda-tanda bahwa

kita memasuki zaman Kalasuba yaitu suatu periode

setelah zaman Kalabendu berakhir (seperti yang di

prediksi oleh Jayabaya).

Barangkali kita bisa mencoba melihat ilustrasi dari

masa zaman Kalabendu yang dimulai dari tembang

28 s/d 44 pupuh 257 Serat Centhini jilid IV :

- Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng

pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana

wahyu kang sanyata.

Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya

ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang

sejati.

- Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling

kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon

kang sirna wiwirangira.

Artinya : Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis

dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para

wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

- Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata,

akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase

nalangsa.

Artinya : Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling

memberi berita dan banyak orang miskin ber-aneka

macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

- Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila

dadra andadi, akeh maling malandang marang ing

marga.

Artinya : Banyak peperangan yang melibatkan para

penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan

makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang

melintang di jalan-jalan.

- Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep

grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu

gelap cleret warsa.

Artinya : Alampun ikut terpengaruh dengan banyak

terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan

gempa bumi.

- Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung

prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun

tentreming wardaya.

Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi

kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana

musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada

rasa tenteram dihati.

- Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur

pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar

silastuti titi tata.

Artinya : Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua

tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.



- Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida,

tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening

karoban rubeda.

Artinya : Para penjahat maupun para pemimpin tidak

sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan

masalah / kesulitan.

- Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra

nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak

cakrak.

Artinya : Para pemimpin mengatakan se-olah-olah

bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya

sekedar menutupi keadaan yang jelek.

- Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar

sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda

hardaning wong sanagara.

Artinya : Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu,

makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat,

dan ber-beda-beda tingkah laku / pendapat orang

se-negara.

- Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays

duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya

sandi samurana.

Artinya : Disertai dengan tangis dan kedukaan

yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh,

mencoba untuk melihat tanda2 yang tersembunyi

dalam peristiwa ini.

(kelihatanya ini adalah ungkapan hati pembuat

tembang ini).

- Anaruwung, mangimur saniberike, menceng

pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha

ing karsa tanpa wiweka.

Artinya : Berupaya tanpa pamrih.

- Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman

musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang

mangkono yen niteni lamampahan.

Artinya : Memberikan peringatan pada zaman yang

kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya /

yang akan terjadi bisa jadi peringatan (peringatan dari

R.Ng. Ranggawarsita).

- Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya

jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa

edan yekti nora tahan.

Artinya : Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman

gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap,

apabila ikut gila/edan tidak tahan.

- Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya

keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren

wekasane.

Artinya : Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian

untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa

kelaparan.

- Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali

kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang

eling lawan waspada.

Artinya : Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT,

yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang

sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan

waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

-Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka,

sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan

memaronira.

Artinya : Pada saat itu sudah dekat berakhirnya

zaman Kaladuka.

Kalau kita perhatikan ilustrasi zaman Kalbendu adalah

sangat mirip dengan 'bebendu' atau 'kekalutan' yang

sedang terjadi saat ini yang kelihatannya tidaksatupun

pemimpin yang mampu mengatasi (baik yang formal

yang sedang mejalankan roda pemerintahan maupun

pimpinan informal diluar pemerintahan - bahkan

pimpinan ABRI yang punya senjatapun tidak mampu

mengatasi masalah - bahkan cenderung seperti orang

bingung / linglung - yang se-mata-mata terpengaruh

oleh perbawa zaman Kalabendu yang tidak mungkin

bisa dihindari)

Zaman Kalasuba.

Pada pupuh 258, dimulai suatu perubahan dari zaman

Kaladuka ke zaman Kalasuba yang lebih baik seperti

pada tembang 1 s/d 6 sebagai berikut :

- Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu

sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata,

ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa,

mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

Artinya : Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu

hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia

menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara

murkapun mereda.

- Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji

wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan

karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming

srinata, sonya rutikedatonnya.

Artinya : Kedatangan pemimpin baru tidak terduga,

seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat2

utama. (note : yang diterjemahkan banyak pihak

sebagai 'satria piningit')

- Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih

keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong

katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin

alamnya, jumeneng sri pandhita.

Artnya: Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah

menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak

mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin

Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi

luhur.

.

- Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama

Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu

bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling

dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.

Artinya : Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan

harta benda, bernama Sultan Erucakra (note : penulis

tidak tahu apa maksudnya, perlu interpretasi tentang

nama ini), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak

mengandalkan bala bantuan manusia, hanya

kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya

dan senjatanya adalah se-mata2 zikir, musuh semua

bisa dikalahkan (note: suatu indikasi bahwa pemimpin

yang akan muncul adalah seorang Muslim yang sangat

taat beragama, yang semata-mata iman yang sangat

tebal kepada Allah SWT yang membimbingnya dan

menjadi kekuatannya)

- Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan

nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya,

dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung

reyal ika, tan karsa lamun luwiha.

Artinya : Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang

pemimpin demi kesejahteraan negara,dan kemakmuran

semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi,

penghasilan yang diterima. (note : suatu indikasi

bahwa kejujuran, kesederhanaan, dan tidak mau

melebihi apa yang menjadi penghasilannya - tidak

kurang tidak lebih - menjadi ciri utama dari pemimpin

yang baru. Dalam tembang ini sangat jelas dilukiskan

kelemahan pemimipin adalah sikap berlebih-lebih-an

yang pada posisi sebagai pimpinan cenderung tidak

menerima apa yang secara murni diberikan oleh negara

sebagai penghasilannya sehingga menimbulkan banyak

'kreativitas' untuk mendapatkan 'tambahan' penghasilan

yang sulit dikontrol batas-batas-nya yang merugikan

rakyat banyak yang contoh nyatanya adalah situasi

kehidupan para pimpinan/pejabat pemerintahan selama

32 tahun rezim Soeharto berkuasa dan juga sampai

dengan saat ini).

- Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa,

sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina,

wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya,

ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.

Artinya : Pajak orang kecil sangat rendah nilainya,

orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

- Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas,

wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik

akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak

wana, penjenenganin sang nata.

Artinya: Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat,

takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat

adil dan bijaksana.

Kesimpulan.

Ilustrasi zaman Kalabendu adalah mirip dengan kondisi

bangsa Indonesia pada saat ini sebagai pertanda

zaman dimana masyarakat kehilangan arah yang

merupakan tahap akhir sebelum bangsa Indonesia

bisa mengatasi dengan kedatangan pemimpin yang

adil dan bijaksana.

Bisa saja hal ini adalah sekedar suatu 'angan-angan'

atau suatu harapan apabila suatu bangsa atau

masyarakat mengalami tekanan kesulitan yang sangat

sulit diatasi seperti pada saat ini sehinga harapan akan

munculnya Ratu Adil (Satria Piningit) adalah sekedar

suatu pelampiasan sumbat sosial agar masyarakat

masih menaruh harapan akan datangnya suatu

perbaikan.

Waktulah yang akan membuktikan bahwa apa yang

menjadi ilustrasi dari budaya Jawa baik oleh Prabu

Jayabaya dari Kediri maupun R. Ng. Ranggawarsita

adalah sekedar ilustrasi pada masanya yang kebetulan

berulang pada saat ini dan bisa saja berulang lagi

dimasa yang akan datang atau merupakan prediksi

yang mungkin bisa terjadi yang kita mengalami masa

Kalabendu tahap akhir yang akan menuju masa

Kalasuba yang penuh harapan.

Tujuan tulian ini adalah :

- Mengemukakan suatu ilustrasi zaman sesuai dengan

referensi budaya Jawa.

- Mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi

kesulitan, kebingungan, kekakhawatiran yang amat

sangat pada saat ini, peringatan R. Ng. Ranggawarsita

adalah sangat relevan untuk kita cermati kembali 'luwih

begja kang eling lan waspada' yaitu kunci keselamatan

agar kita tetap mampu mengontrol tingkah laku kita

untuk tidak ikut-ikutan gila / edan walaupun dalam

kesulitan seberapapun besarnya untuk menjaga

perbuatan kita agar tetap menjaga sifat budi luhur -

tidak ikut2-an korupsi, tidak ikut2-an menjarah, tidak

ikut2-an merampok dijalanan, tidak ikut2-an merusak,

menyerahkan semuanya dengan ikhlas kepada Allah

SWT yang hanya atas izinnya semata semua kejadian

akan bisa berlaku apakah seseorang mendapat suatu

kesulitan / musibah ataupun dipermudah jalannya.

(Walaupun tidak mudah bersikap seperti ini pada

zaman ini - dan ini nyata2 cobaan buat diri kita semua -

dan tidak semua orang mampu lulus ujian melewati

zaman Kalabendu dengan selamat kecuali 'yang eling

lan waspada').

- Memberikan harapan bahwa keadaan akan lebih baik

bila zaman Kalabendu berakhir dan perbawa

(kewibawaan) pemimpin bisa kembali dengan

datangnya zaman Kalasuba.

Note: Terjemahan dari tembang Jawa kedalam Bahasa
Indonesia adalah bedasarkan interpretasi pribadi penulis
dengan banyak keterbatasan pemahaman bahasa Jawa
madya. Penulis menyilahkan kalau ada pembaca yang
ingin memberikan koreksi untuk terjemahan/interpretasi
yang lebih akurat.


Desember '98.
Nek iki koleksiku......
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Hendrix
Koordinator
Hendrix


Lokasi : JogJakarta,
Reputation : 0
Join date : 18.04.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeMon Jul 14, 2008 4:07 am

la gene tandane wes ono kabeh kie ?? gek podho tobat........ :roll:
Kembali Ke Atas Go down
http://profiles.friendster.com/35129720,multiply.vasilizalitev.c
hari_qdoel
Koordinator
hari_qdoel


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 3
Join date : 20.04.11

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeFri Jun 29, 2012 11:24 am

hmmm....bongkar-bongkar arsip lawas....
simak dulu luurrrrrrrrrrr...
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com/u8602
sacho_eka
Pengawas
sacho_eka


Lokasi : tangerang- banten
Reputation : 36
Join date : 03.11.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeFri Jun 29, 2012 12:44 pm

layak jadi hot tread lour...
Kembali Ke Atas Go down
http://kiossticker.com
sacho_eka
Pengawas
sacho_eka


Lokasi : tangerang- banten
Reputation : 36
Join date : 03.11.08

TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitimeFri Jun 29, 2012 12:45 pm

layak jadi hot tread lour...
Kembali Ke Atas Go down
http://kiossticker.com
Sponsored content





TONDONE JAMAN KOLOBENDU Empty
PostSubyek: Re: TONDONE JAMAN KOLOBENDU   TONDONE JAMAN KOLOBENDU Icon_minitime

Kembali Ke Atas Go down
 
TONDONE JAMAN KOLOBENDU
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» perubahan jaman
» wis jaman edan
» cerita jaman SD
» doraemon jaman sekarang
» ( Vid ) monyet nakal jaman saiki

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Kebatinan, Misteri dan Ghaib-
Navigasi: